Minggu, 28 Oktober 2012

0 Muslimah dan 3 Kondisi Cinta

Kata “cinta” pasti bukan sesuatu yang asing, termasuk bagi muslimah. Bahkan, muslimah lebih sensitif ketika mendengar “cinta” dibandingkan dengan kaum Adam. Sudah menjadi fitrah, muslimah memiliki jiwa yang lebih lembut, halus dan peka daripada pria. Kelembutan jiwa, kehalusan hati dan kepekaan perasaan itu adalah keistimewaan muslimah. Tetapi tidak jarang, ketiga hal itu juga mendorongnya menjadi salah sikap terhadap cinta.

Ada 3 kondisi cinta yang bisa dialami seorang muslimah.
Pertama, cinta kepada Allah dan cinta kepada apa yang dicintai Allah
Hal ini yang dituntunkan oleh Islam dan dikehendaki Allah. Cinta kepada Allah (mahabbatullah) merupakan cinta yang pertama dan utama. Ia adalah bingkai sekaligus pondasi cinta. Karena cintanya kepada Allah-lah, kemudian muslimah mencintai sesuatu selain-Nya; karena itu perintah Allah, ia cintai karena Allah.
Muslimah mencintai Rasul-Nya, keluarga Rasulullah, dan sahabat Nabi; ia mencintai mereka karena Allah memerintahkannya. Karenanya ia pun mencintai mereka karena Allah.
Muslimah mencintai suaminya, muslimah mencintai orang tuanya, muslimah mencintai anak-anaknya; semuanya untuk Allah dan karena Allah, lillah dan fillah.
Muslimah mencintai dakwah, muslimah mencintai jama’ah dakwah, muslimah mencintai umat Islam; semuanya untuk Allah dan karena Allah, lillah dan fillah.
Cinta yang demikian adalah cinta yang sejati. Yakni mencintai sesuatu yang dicintai Allah, diperintahkan-Nya, atau diizinkan-Nya tanpa melebihi cintanya kepada Allah.

Sabtu, 27 Oktober 2012

0 Kepada Saudariku, Para Muslimah: Kami Iri Pada Kalian

Joana Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada perempuan-perempuan Muslim di Libanon saat negara itu diserang oleh Israel dalam perang tahun 2006 lalu.

Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon, bisa menjadi cermin dan semangat bagi para Muslimah dimanapun untuk bangga akan identitasnya menjadi seorang perempuan Muslim, apalagi di tengah kehidupan modern dan derasnya pengaruh budaya Barat yang bisa melemahkan keyakinan dan keteguhan seorang Muslimah untuk tetap mengikuti cara-cara hidup yang diajarkan Islam.

Selasa, 23 Oktober 2012

0 Pesona Jiwa Raga

Pada mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menantikan pandanganmu. Jiwa membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang magnetiknya. Jiwa meniupkan kebajikannya.

Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga.

Tapi selalu ada bias disini. Ketika ketertarikan fisik disebut cinta tapi kemudian kandas ditengah jalan. Atau ketika cinta tulus pada kebajikan jiwa tak tumbuh berkembang sampai waktu yang lama. Bias dalam jiwa ini terjadi karena ia selalu merupakan senyawa spritualitas dan libido. Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas kehidupan yang panjang. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara.

0 Mencintai itu Keputusan

Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian iapun berkata, “Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui di sini.” Itulah kalimat pertama Utsaman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya di Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.

Sebab cinta adalah kata lain dari memberi... sebab memberi adalah pekerjaan... sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat... sebab pekerjaan itu harus ditunaikan dalam waktu lama... sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh... maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, “Aku mencintaimu.” Kepada siapapun!
 

Nilwan Aris Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates